Beberapa bulan lalu ada sebuah tayangan televisi yang mempertontonkan seorang anak remaja perempuan mencuci kaki ibunya di sebuah baskom, kemudian airnya diminum. Saya tidak menonton sejak awal dan tidak mau menontonnya sampai akhir. Tayangan menyesatkan itu menggambarkan si anak perempuannya itu berbuat dosa kepada ibunya. Entah dosa apa, tapi tentunya mungkin suatu kesalahan yang dianggap berat oleh ibunya.
Si anak ini ingin memohon maaf kepada ibunya, tapi si ibu tampaknya keberatan untuk memaafkan, terjadilah adegan konyol itu. Perilaku semacam ini entah bagaimana bisa terjadi. Ada kemungkinan berawal dari pemahaman yang keliru terhadap hadits Nabi SAW. “Sorga di bawah telapak kaki ibu”, kata Rasulullah. Kata-kata Nabi itu kadang dikatakan sementara orang sebagai sebuah pepatah.
Ketika untuk pertama kali belajar ilmu pendidikan, guru saya mengatakan bahwa pendidik pertama dan utama adalah ibu. Mendidik anak menjadi kewajiban utama seorang ibu. Kewajiban itu tidak mungkin bisa digantikan oleh baby sitter, pembantu atau siapa pun. Namun, tentunya tidak semua ibu bisa berperan dengan baik sebagai pendidik anak-anaknya.
Sebagai seorang anak, berbakti kepada ibu merupakan kewajiban, melebihi kewajiban terhadap ayah, sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh seorang shahabat. Sebaliknya seorang ibu yang bertanggung jawab sejak jauh-jauh hari harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendidik utama bagi anak-anaknya.
Sebagai seorang pendidik utama yang baik dan bertanggung jawab seorang ibu dapat mengantarkan anaknya untuk bisa mencapai sorga. Sebaliknya, ibu yang tidak berfungsi sebagai pendidik yang baik, bahkan memberikan contoh yang tidak layak sebagai seorang ibu, memiliki potensi untuk menjerumuskan anaknya ke neraka.
Rasulullah SAW melalui haditsnya itu sebenarnya memberikan amanah dan tanggung jawab yang besar kepada ibu untuk mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam , bukan memberikan kekuasaan kepada ibu untuk bisa mengatur anaknya sesuai keinginan pribadinya.
Barangkali ibu-ibu, atau calon ibu memiliki pendapat yang lain. Bagaimana ?
Si anak ini ingin memohon maaf kepada ibunya, tapi si ibu tampaknya keberatan untuk memaafkan, terjadilah adegan konyol itu. Perilaku semacam ini entah bagaimana bisa terjadi. Ada kemungkinan berawal dari pemahaman yang keliru terhadap hadits Nabi SAW. “Sorga di bawah telapak kaki ibu”, kata Rasulullah. Kata-kata Nabi itu kadang dikatakan sementara orang sebagai sebuah pepatah.
Ketika untuk pertama kali belajar ilmu pendidikan, guru saya mengatakan bahwa pendidik pertama dan utama adalah ibu. Mendidik anak menjadi kewajiban utama seorang ibu. Kewajiban itu tidak mungkin bisa digantikan oleh baby sitter, pembantu atau siapa pun. Namun, tentunya tidak semua ibu bisa berperan dengan baik sebagai pendidik anak-anaknya.
Sebagai seorang anak, berbakti kepada ibu merupakan kewajiban, melebihi kewajiban terhadap ayah, sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh seorang shahabat. Sebaliknya seorang ibu yang bertanggung jawab sejak jauh-jauh hari harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendidik utama bagi anak-anaknya.
Sebagai seorang pendidik utama yang baik dan bertanggung jawab seorang ibu dapat mengantarkan anaknya untuk bisa mencapai sorga. Sebaliknya, ibu yang tidak berfungsi sebagai pendidik yang baik, bahkan memberikan contoh yang tidak layak sebagai seorang ibu, memiliki potensi untuk menjerumuskan anaknya ke neraka.
Rasulullah SAW melalui haditsnya itu sebenarnya memberikan amanah dan tanggung jawab yang besar kepada ibu untuk mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam , bukan memberikan kekuasaan kepada ibu untuk bisa mengatur anaknya sesuai keinginan pribadinya.
Barangkali ibu-ibu, atau calon ibu memiliki pendapat yang lain. Bagaimana ?