Selasa, 01 Maret 2011

SUKU AINU

Suku Ainu (アイヌ?) IPA: [ʔáinu] (juga disebut Ezo dalam teks-teks sejarah) adalah sebuah kelompok etnis pribumi di Hokkaidō, Kepulauan Kuril, dan sebagian besar Sakhalin. Diduga ada lebih dari 150.000 orang Ainu saat ini; namun jumlahnya yang pasti tidak diketahui karena banyak orang Ainu yang menyembunyikan asal-usul mereka karena masalah etnis di Jepang. Seringkali orang Ainu yang masih hidup pun tidak menyadari garis keturunan mereka, karena orangtua dan kakek-nenek mereka merahasiakannya untuk melindungi anak-anak mereka dari masalah sosial.

Etnonim mereka yang paling terkenal berasal dari kata aynu, yang berarti "manusia" (dibedakan dengan kamuy, makhluk ilahi) dalam dialek Hokkaidō dari bahasa Ainu; Emishi, Ezo atau Yezo (蝦夷) adalah istilah-istilah bahasa Jepang, yang diyakini berasal dari bentuk leluhur kata Ainu Sakhalin modern enciw atau enju, yang juga berarti "manusia". Istilah Utari (ウタリ?) (artinya "kamerad" dalam bahasa Ainu) kini lebih disukai oleh sejumlah anggota kelompok minoritas ini.

Suku Ainu lama dipaksa oleh pemerintah Jepang untuk berasimiliasi dengan orang Jepang (suku Yamato). Pemerintah mengesahkan undang-undang pada tahun 1899 yang menyatakan bahwa suku Ainu adalah "bekas pribumi" (disebut "bekas" karena suku Ainu dimaksud akan berasimilasi). Pada 6 Juni 2008 parlemen Jepang mengesahkan resolusi yang mengakui bahwa suku Ainu adalah "suku pribumi dengan bahasa, kepercayaan, dan kebudayaan yang berbeda" sekaligus membatalkan undang-undang tahun 1899 tersebut.

Asal-usul

Asal-usul suku Ainu belum sepenuhnya diketahui. Mereka seringkali dianggap Jōmon-jin, penduduk asli Jepang dari periode Jōmon. Penelitian DNA mutakhir mengatakan bahwa mereka adalah keturunan dari suku Jomon kuno di Jepang."Suku Ainu yang tinggal di tempat ini seratus ribu tahun sebelum Anak-anak Matahari datang" dikisahkan dalam salah satu dari Yukar Upopo (legenda Ainu) mereka.[2]

Budaya Ainu berasal dari sekitar 1200 M dan penelitian mutakhir berpendapat bahwa hal ini berasal dalam penggabungan budaya Okhotsk dan Satsumon. Ekonomi mereka didasarkan pada pertanian maupun berburu, menangkap ikan dan mengumpul.

Laki-laki Ainu umumnya memiliki rambut yang lebat. Banyak peneliti awal menduga bahwa mereka keturunan Kaukasus, meskipun uji DNA mutakhir tidak menemukan garis keturunan Kaukasus. Uji genetik suku Ainu membuktikan bahwa mereka tergolong terutama kepada grup haplo-Y D.

Satu-satunya tempat di luar Jepang di mana grup haplo-Y D lazim ditemukan adalah Tibet dan Kepulauan Andaman di Samudra Hindia. Dalam sebuah studi oleh Tajima et al. (2004), dua dari 16 sampel (atau 12,5%) laki-laki Ainu ditemukan tergolong dalam grup haplo C3, yaitu grup haplo dengan kromosom Y yang paling umum di antara penduduk-penduduk pribumi di Rusia Timur Jauh dan Mongolia;Hammer et al. (2006) menguji empat sampel lagi dari laki-laki Ainu dan menemukan bahwa salah satunya tergolong ke dalam grup haplo C3.

Beberapa penelitia berspekulasi bahwa pembawa grup haplo C3 yang minoritas di antara suku Ainu ini mungkin mencerminkan suatu tingka tertentu dari pengaruh genetik satu arah dari suku Nivkh, yang dengannya suku Ainu telah lama memiliki interaksi budaya. Menurut Tanaka et al. (2004), garis mtDNA mereka umumnya terdiri dari grup haplo Y (21,6%) dan grup haplo M7a (15,7%). Evaluasi kembali belakangan ini tentang ciri-ciri tulang tengkorak mereka menunjukkan bahwa suku Ainu lebih mirip dengan suku Okhotsk daripada dengan suku Jōmon. Hal ini sesuai dengan rujukan kepada budaya Ainu sebagai gabungan dari budaya Okhotsk dan Satsumon yang dirujuk di atas.

Sabtu, 26 Februari 2011

Beberapa bulan lalu ada sebuah tayangan televisi yang mempertontonkan seorang anak remaja perempuan mencuci kaki ibunya di sebuah baskom, kemudian airnya diminum. Saya tidak menonton sejak awal dan tidak mau menontonnya sampai akhir. Tayangan menyesatkan itu menggambarkan si anak perempuannya itu berbuat dosa kepada ibunya. Entah dosa apa, tapi tentunya mungkin suatu kesalahan yang dianggap berat oleh ibunya.

Si anak ini ingin memohon maaf kepada ibunya, tapi si ibu tampaknya keberatan untuk memaafkan, terjadilah adegan konyol itu. Perilaku semacam ini entah bagaimana bisa terjadi. Ada kemungkinan berawal dari pemahaman yang keliru terhadap hadits Nabi SAW. “Sorga di bawah telapak kaki ibu”, kata Rasulullah. Kata-kata Nabi itu kadang dikatakan sementara orang sebagai sebuah pepatah.
Ketika untuk pertama kali belajar ilmu pendidikan, guru saya mengatakan bahwa pendidik pertama dan utama adalah ibu. Mendidik anak menjadi kewajiban utama seorang ibu. Kewajiban itu tidak mungkin bisa digantikan oleh baby sitter, pembantu atau siapa pun. Namun, tentunya tidak semua ibu bisa berperan dengan baik sebagai pendidik anak-anaknya.
Sebagai seorang anak, berbakti kepada ibu merupakan kewajiban, melebihi kewajiban terhadap ayah, sebagaimana jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh seorang shahabat. Sebaliknya seorang ibu yang bertanggung jawab sejak jauh-jauh hari harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pendidik utama bagi anak-anaknya.
Sebagai seorang pendidik utama yang baik dan bertanggung jawab seorang ibu dapat mengantarkan anaknya untuk bisa mencapai sorga. Sebaliknya, ibu yang tidak berfungsi sebagai pendidik yang baik, bahkan memberikan contoh yang tidak layak sebagai seorang ibu, memiliki potensi untuk menjerumuskan anaknya ke neraka.
Rasulullah SAW melalui haditsnya itu sebenarnya memberikan amanah dan tanggung jawab yang besar kepada ibu untuk mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam , bukan memberikan kekuasaan kepada ibu untuk bisa mengatur anaknya sesuai keinginan pribadinya.
Barangkali ibu-ibu, atau calon ibu memiliki pendapat yang lain. Bagaimana ?